Langsung ke konten utama

PEREMPUAN ULAMA YANG MEMILIH JOMBLO KHODIJAH BINTI SAHNUN

 


Nama lengkap beliau adalah Khadijah binti al-Imam Abdussalam Sahnun bin Sa’id at-Tanukhi. Khadijah lahir di Qairawan, Tunisia, tahun 160 Hijriah. Khadijah binti Sahnun adalah perempuan ulama yang sampai akhir hayatnya ia memilih tidak menikah. 

Imam Qadhi Iyadh dalam bukunya Tartib al-Muluk wa Tartib al-Masalik fi Ma’rifah A’lam Madzhab Malik menjelaskan, bahwa Khadijah binti Sahnun adalah [perempuan ulama, cendekia, cerdas, dan pribadi yang indah.

Pengetahuan agama yang dimiliki Khadijah sangatlah luas, bahkan mengungguli kebanyakan ulama laki-laki. Ia berkontribusi memberi fatwa keagamaan dan melakukan advokasi-advokasi sosial kemanusiaan.

Ayah Khadijah, Imam Sahnun merupakan ahli hukum Islam dalam Mazhab Maliki. Ia lah yang menyusun kitab Al-Mudawwanah, ensiklopedia fikih Mazhab Maliki. Melalui didikan dan asuhan ayahnya, Khadijah memperoleh pengetahuan agama yang luas.

Tak hanya itu, dari ayahnya lah Khadijah menjadi sosok berkepribadian luhur, rendah hati, sopan, santun, pemurah. Popularitasnya sebagai ulama perempuan sangat terkenal oleh kebanyakan orang.

Imam Sahnun juga seorang hakim pengadilan terkemuka. Konon, saat diangkat menjadi hakim agung di Qairawan, ia merasa bersedih. Wajahnya murung dan tidak seorang pun yang menyampaikan ucapan selamat. Lantas, ayahnya menghampiri puterinya yang cerdas itu.

Sahnun menyampaikan kebimbangannya, apakah harus menerima jabatan tersebut atau malah menolaknya. Atas kepribadian Khadijah yang sangat berani, akhirnya ia mendukung ayahnya untuk menerima jabatan hakim tersebut.

Kebanyakan para ulama memang tidak sanggup memikul jabatan menjadi hakim, mengingat tanggung jawabnya yang begitu berat di hadapan Allah Swt dan rakyatnya. 

Dijelaskan dalam bukunya Hasan Husni yang berjudul Syahirat at-Tunisiyyat atau perempuan-perempuan terkenal Tunisia mengatakan, ayah Khadijah sangat menyayangi dan mengagumi Khadijah. Imam Sahnun selalu meminta pandangan Khadijah saat akan mengambil keputusan dalam segala hal, termasuk mengenai jabatan sebagai hakim.

Lalu, mengapa sebenarnya Khadijah tidak menikah? Sepanjang hidupnya Khadijah memilih tidak menikah. Tidak ada penjelasan dari Khadijah mengapa ia tidak menikah sepanjang hidupnya. Tampaknya ia lebih terpikat pada dunia intelektual, menyebarkan ilmu pengetahuan dan melakukan advokasi-advokasi kemanusiaan. Seperti pada umumnya tokoh besar yang memilih untuk tidak menikah. 

Khadijah wafat tahun 270 Hijriyah. Ia dikebumikan di Qairawan di samping makam ayahnya.

Penulis: Siti Mahmudah

Artikel ini sudah terbit di Oase.id

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sarinah Percayalah Engkau Tidak Sendiri

 Sarinah air matanya menggenang saat ia mengenang suami yang baru 100 hari meninggalkan untuk selamanya akibat kanker hati yang di deritanya. Ini adalah masa sulit Sarinah ia harus merawat dua anak lelaki hasil dari pernikahan. dari balik kaca spion tengah mobil Sarinah mengusap matanya dengan tisu sambil mengendong anak balitanya yanh sedang dipangkuan, sedang anak satunya lagi menikmati pemandangan dari samping kaca jendela. Hari ini adalah hari wisuda sebagai peserta hafalan Quran di sekolahnya. Sarinah semakin sedih saat anak pertamanya mau prosesi wisuda ia malah tiada padahal ini adalah cita-cita ayahnya ingin mempunyai anak yang mempunyai pendidikan agama yang mendalam. Kini dua anaknya yatim, Sarinah seorang diri merawat dan membesarkan kedua anaknya. Untung keluarga dari mendiang suaminya mendukung dan bertanggung jawab untuk tetap meninggali rumah orang tua mendiang suami bersama-sama anaknya.  Rasinah perempuan asal Medan, orang tuanya merantau ke Bogor dia sejak ke...

Tak Tahan Lagi Sarinah Ingin Mengakhiri

#2 Sarinah merasa hatinya tersayat-sayat saat mendengar cerita dari tetangga tentang dirinya, ia merasa kehadiran di rumah menjadi sumber masalah. Hatinya perih ia bertanya-tanya dalam lamunan, "kenapa mama tidak bilang langsung pada saya". Ia menyadari dialah bukan siapa-siapa pil pahit mau tidak mau harus di telan. Kata hatinya ia ingin memeluk mamahnya yang jauh di sana sambil menikmati tungku kayu bakar mengenang masa kecil di pojokan rumah panggung khas suku Melayu beratap seng karat yang bisa menghalau rasa dingin  juga beradaptasi dengan gempa. Selimut tebal mampu menyembunyikan rasa perih di depan anak-anak, sesekali ia menjelma tegar di depannya tapi hatinya begitu lemah dan pilu. Sarinah tak kuasa lagi bertahan di rumah mertua. Saat semuanya menjelma malaikat hati Sarinah begitu bahagia, kesedihan kehilangan suaminya sejenak menghilang, tapi saat mertuanya menjadi iblis rasa ingin keluar jauh-jauh dari rumah ini muncul kembali, yang membuat Sarinah bertahan hanyalah...